Hey,
aku duduk termenung menatap matahari senja itu, kabut pun serasa menyertai
musim yang aku rasa sangat dingin akhir-akhir ini. Di luar sana, kulihat
segerombolan anak kecil menendang satu bola bergiliran. Sekilas aku berpikir,
betapa bahagia nya mereka bisa bermain dan berbagi bersama. Langit mulai redup
ketika cahaya itu semakin turun, namun tak satupun anak berniat menyingkir dari
lapangan yang tak begitu lebar itu. Ku putar bola mataku, dan mendadak
tatapanku terhenti pada satu titik di sudut lapangan. Aku hanya tersenyum kecil
melihatnya. Kamu, Iya kamu.. begitu asik bermain dengan kameramu. Entah apa
yang membuatmu tertawa melihat kamera di tanganmu itu. Aku pun terus
memandangmu dan seolah mengerti apa yang sedang km mainkan bersama kameramu.
Tatapanku yang terus memantau itu seketika membuatmu tersadar dan berbalik
menatapku. Aahh.. cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ke bawah. Namun,
tatapan itu terus berjalan dan semakin mendekat. Aku begitu sadar hingga
akhirnya aku mendongak saat sebuah tangan menepuk lirih bahuku,
"Hey!" Sapamu untuk pertama kalinya. Sapaan yang hingga saat ini
masih selalu terbayang jika aku mengingat tentangmu.
Mungkin
itulah awal pertemuan kita. Pertemuan yang aku rasa tidak begitu berkesan
buatmu. Namun, itulah saat dimana aku merasa menemukan pertanyaan yang terus
membayangiku. Apakah bertemu denganmu saat itu bisa menciptakan pertemuan untuk
kita setiap hari? Ahh.. aku pikir itu hanyalah pemikiran konyol. Aku terus
membuang apa yang ada dalam benakku ketika itu. Hingga larut malam, senyuman
saat kau menyapaku sore tadi kian membayang. Aku mencoba mengubah posisi
tidurku menghadap ke jendela kamar. Harapanku ya tentu aku ingin melihat di
luar jendela dan membuang semua pikiran konyolku itu. Namun semakin aku
mencoba, rasanya kamu semakin masuk ke dalam otakku. Hey! Kenapa kamu betah ada
dalam pikiranku? Apakah caraku memikirkan mu itu berlebihan? Lalu, kenapa aku
sungguh berpikir terus tentangmu? Oh, kini boneka di atas kasur yang sedari
tadi menemaniku seolah ikut tersenyum melihat ku semakin gelisah. Apakah aku
jatuh cinta? Melihatmu pada pandangan pertama kali saja sudah sangat mengusik
cara kerja otakku. Hingga membuatku susah terlelap malam itu. Aku menghela
nafas dan mencoba berpikir tenang. Hembusan angin yang masuk melalui celah
jendelaku seakan berbisik bahwa aku memang sedang jatuh cinta. Aku pun menarik
selimut dan tersadar bahwa aku merasa kamu lah sosok yang aku lihat pertama
kali namun begitu susah terlepas dari pandanganku. Kamu lah yang membuyarkan
segala isi yang ada di otakku malam itu. Terus masuk dan berusaha semakin dalam
berlarian dalam pikiranku. Tanpa ku sadari, aku pun terlelap dan ketika aku
membuka mataku pagi hari, hatiku pun menjawab segala kegelisahanku semalam,
kemudian berkata lirih, Iya.. Aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya
tentunya pandanganku terhadapmu :)
-hevikartika-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar