Selasa, 30 Oktober 2012

Sesingkat itukah, Kita?

Syg, tidaklah kamu ingat saat pertama kali kita bertemu dan kamu menyapaku dengan senyumanmu yg aku rasa sangat manis itu? Saat kamu merasa malu akan tingkahmu yang begitu lucu kepadaku namun aku sungguh terhibur oleh semua candamu itu..

Aku selalu memilih membolos jam kuliah hanya untuk menemuimu di rumahmu yang memang bisa dibilang tidak dekat dari kotaku..

Syg, apakah kamu ingat saat hujan lebat diluar dan aku memilih duduk bersebelahan denganmu? Kemudian kamu memberiku isyarat agar aku memakai jaketku dan membiarkanku bersandar di pundakmu..

Ingatkah kamu bagaimana caramu memanggilku dengan sebutan 'manis' di setiap percakapan kita? Caramu yang berhasil membuatku selalu ingin tersenyum saat namamu muncul di layar hpku..

Saat kamu selalu ada waktu untuk membuatku tertawa dan melupakan semua beban pikiranku, saat itu juga aku mulai yakin bahwa kamu bisa menjadi semangat baru untukku..

Masih teringat dengan jelas saat kamu memintaku untuk selalu ada dan memberi kabar padamu apapun dan dimanapun aku berada, apa itu pertanda bahwa kamu mengkhaatirkan aku?

Hmm.. Bagaimana aku tak ingat, caramu yang selalu membuatku tersenyum setiap aku membaca pesan² singkat darimu, celotekan kecilmu yang mampu membuatku geli ketika kamu menggodaku..

Dan caramu berkata hati² saat aku hendak pulang kembali ke kotaku, juga caramu memperhatikan setiap gerak gerik ku saat aku bersamamu..

Bukankah begitu menyenangkan, Syg?


Ingatkah kamu saat aku merasa ragu untuk maju dan kamu berusaha meyakinkanku dengan semua keterbatanmu itu?

Saat kamu berkata bahwa aku mampu untuk terus menulis cerita kita dalam sebuah paragraf baru, dan aku sanggup untuk memberikan beraneka warna di setiap kalimat itu..

Bukankah kamu juga yakin, aku selalu berusaha menghapus bagian yg kamu anggap salah? Kemudian aku menggantinya dengan yg kita anggap benar..

Lalu, kenapa sekarang kamu justru menghapus semuanya? Apakah kamu merasa tulisan kita kurang pantas untuk di baca orang lain diluar sana?

Syg, aku kecewa ketika kini kamu mendadak keluar dari semua tulisan yang kita rangkai bersama.. Sedangkan aku?

Aku masih terus berusaha merangkai satu demi satu kata agar aku berhasil mencapai sebuah titik. Agar tulisan kita ini tak nampak percuma, tentunya..

Namun seperti yang terlihat kini, titik itu justru semakin jauh untuk dapat ku capai. Dan kini keraguan ku pun mulai datang menyelimuti..

Kemana pergi mu ketika tulisan kita semakin tak terbaca? Dimana kamu ketika aku butuh sesuatu untuk menutupi bagian yang tak terbaca itu?


Syg, aku lelah. Dan kini aku hampir menyerah. Salahkah jika aku memilih untuk berhenti menulis cerita kita?

Aku merasa kehilangan suatu hal yg aku coba tulis dalam paragraf kita. Dan kamu pasti lebih tau apa yg menyebabkan aku kehilangan itu semua..

Sudahlah syg, kini aku hanya bisa memandang tulisan yg tak berhasil tertata indah ini. Apakah kamu juga melihatnya dari sana?

Aku tak yakin kamu bisa merasakan betapa kecewanya aku saat aku mendengar kabar bahwa kamu telah menemukan tulisan baru yang mungkin lebih menarik perhatianmu..

Syg, bahagiakah kamu disana dengan tulisan yang kamu anggap lebih indah itu?


Ikhlas. Iya, aku akan belajar lebih ikhlas, belajar memahami apa arti kehilangan dan merelakan tulisan kita terhapus perlahan..

Bahkan untuk sekedar cemburu pun aku tak berhak, saat aku tau kamu telah bahagia di dalam cerita barumu itu..

Mungkin tulisannya memang lebih indah dari tulisanku, bukan?

Aku mulai mengerti apa makna dari pertemuan singkat kita. Yeaah, memang singkat dan terasa cepat berlalu begitu saja..

Dan aku hanya terdiam tanpa berbuat apa² ketika kamu hanya menatapku kosong seolah tak pernah tau tulisanku, bahkan tak kenal siapa aku..

Mungkin memang benar kamu telah melupakan aku, semua tulisanku, semua peristiwa kita, dan pertemuan indah kita..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar