Aku selalu memilih membolos jam kuliah hanya untuk menemuimu di
rumahmu yang memang bisa dibilang tidak dekat dari kotaku..
Syg, apakah kamu ingat saat hujan lebat diluar dan aku memilih duduk
bersebelahan denganmu? Kemudian kamu memberiku isyarat agar aku memakai jaketku
dan membiarkanku bersandar di pundakmu..
Ingatkah kamu bagaimana caramu memanggilku dengan sebutan 'manis' di
setiap percakapan kita? Caramu yang berhasil membuatku selalu ingin tersenyum
saat namamu muncul di layar hpku..
Saat kamu selalu ada waktu untuk membuatku tertawa dan melupakan
semua beban pikiranku, saat itu juga aku mulai yakin bahwa kamu bisa menjadi
semangat baru untukku..
Masih teringat dengan jelas saat kamu memintaku untuk selalu ada dan
memberi kabar padamu apapun dan dimanapun aku berada, apa itu pertanda bahwa
kamu mengkhaatirkan aku?
Hmm.. Bagaimana aku tak ingat, caramu yang selalu membuatku
tersenyum setiap aku membaca pesan² singkat darimu, celotekan kecilmu yang
mampu membuatku geli ketika kamu menggodaku..
Dan caramu berkata hati² saat aku hendak pulang kembali ke
kotaku, juga caramu memperhatikan setiap gerak gerik ku saat aku bersamamu..
Bukankah begitu menyenangkan, Syg?
Ingatkah kamu saat aku merasa ragu untuk maju dan kamu berusaha
meyakinkanku dengan semua keterbatanmu itu?
Saat kamu berkata bahwa aku mampu untuk terus menulis cerita kita
dalam sebuah paragraf baru, dan aku sanggup untuk memberikan beraneka warna di
setiap kalimat itu..
Bukankah kamu juga yakin, aku selalu berusaha menghapus bagian yg
kamu anggap salah? Kemudian aku menggantinya dengan yg kita anggap benar..
Lalu, kenapa sekarang kamu justru menghapus semuanya? Apakah kamu
merasa tulisan kita kurang pantas untuk di baca orang lain diluar sana?
Syg, aku kecewa ketika kini kamu mendadak keluar dari semua tulisan
yang kita rangkai bersama.. Sedangkan aku?
Aku masih terus berusaha merangkai satu demi satu kata agar aku
berhasil mencapai sebuah titik. Agar tulisan kita ini tak nampak percuma,
tentunya..
Namun seperti yang terlihat kini, titik itu justru semakin jauh untuk
dapat ku capai. Dan kini keraguan ku pun mulai datang menyelimuti..
Kemana pergi mu ketika tulisan kita semakin tak terbaca? Dimana kamu
ketika aku butuh sesuatu untuk menutupi bagian yang tak terbaca itu?
Syg, aku lelah. Dan kini aku hampir menyerah. Salahkah jika aku
memilih untuk berhenti menulis cerita kita?
Aku merasa kehilangan suatu hal yg aku coba tulis dalam paragraf
kita. Dan kamu pasti lebih tau apa yg menyebabkan aku kehilangan itu semua..
Sudahlah syg, kini aku hanya bisa memandang tulisan yg tak berhasil
tertata indah ini. Apakah kamu juga melihatnya dari sana?
Aku tak yakin kamu bisa merasakan betapa kecewanya aku saat aku
mendengar kabar bahwa kamu telah menemukan tulisan baru yang mungkin lebih
menarik perhatianmu..
Syg, bahagiakah kamu disana dengan tulisan yang kamu anggap lebih
indah itu?
Ikhlas. Iya, aku akan belajar lebih ikhlas, belajar memahami apa
arti kehilangan dan merelakan tulisan kita terhapus perlahan..
Bahkan untuk sekedar cemburu pun aku tak berhak, saat aku tau kamu telah
bahagia di dalam cerita barumu itu..
Mungkin tulisannya memang lebih indah dari tulisanku, bukan?
Aku mulai mengerti apa makna dari pertemuan singkat kita. Yeaah,
memang singkat dan terasa cepat berlalu begitu saja..
Dan aku hanya terdiam tanpa berbuat apa² ketika kamu hanya menatapku
kosong seolah tak pernah tau tulisanku, bahkan tak kenal siapa aku..
Mungkin memang benar kamu telah melupakan aku, semua tulisanku,
semua peristiwa kita, dan pertemuan indah kita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar